Gotong Royong Warga Desa

Gotong royong warga Desa Sukorahayu membedah rumah Bapak Nano, salah satu warga Desa Sukorahayu Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung timur. Sejak hari Jumat tanggal 22 Oktober 2021, Karang Taruna, Jamaah Silahturahmi Barokah beserta masyarakat Desa Sukorahayu saling bergotong royong merehab rumah Bapak Nano.

Mengenal Bapak Nano

Bapak Nano merupakan warga yang menyadang disabilitas fisik, berusia 63 tahun dan tidak memiliki sanak saudara. Tinggal sendirian di sebuah rumah bambu yang didirikan ditanah milik salah satu warga Dusun II, Desa Sukorahayu.

Gotong royong bedah rumah Bapak Nano

Bedah rumah dilakukan karena rasa prihatin, donatur kegiatan tersebut dari sumbangsih warga Desa Sukorahayu. Bapak Nano merasa sangat bahagia atas bantuan tersebut.

Pengertian Gotong Royong

Gotong royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Istilah ini berasal dari kata bahasa Jawa gotong yang berarti “mengangkat” dan royong yang berarti “bersama”. Bersama dengan musyawarah, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, serta kekeluargaan, gotong royong menjadi dasar filsafat Indonesia.

Istilah ini diturunkan dari budaya masyarakat desa di Jawa yang saling menolong ketika membangun dan memindahkan rumah, menggotongnya bahu-membahu dengan tandu dari batang royong (ruyung), tumbuhan tinggi sejenis kelapa.

Gotong royong mulai luntur

Kegiatan gotong royong dilakukan di RT 007 Dusun II Desa Sukorahayu, sebagai warga dari Bangsa Indonesia tekenal sebagai bangsa yang memiliki budaya adiluhung. Budaya di masyarakat yang sangat layak dibanggakan adalah budaya gotong royong, masyarakat Indonesia dikenal dengan kebiasaan bergotong royong. Para leluhur pendahulu sudah mewariskan semangat kegotongroyongan, semangat yang menjadi warisan sangat berharga bagi generasi penerus bangsa, sebagai salah satu sarana pemersatu bangsa.

Tapi, sepertinya saat ini semangat gotong royong mulai hilang, luntur bersama perkembangan jaman. Memang tidak sepenuhnya hilang, namun secara perlahan kebiasaan gotong royong mulai surut. Meski dibeberapa daerah masih bisa dijumpai masyarakat bergotong royong, tapi semangatnya (mungkin) tidak seperti dahulu. Tidak sedikit orang yang mulai mementingkan diri sendiri, orang mulai sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing, banyak yang mulai kehilangan semangat bergotong royong.

Rasa syukur Bedah Rumah

Perwakilan Karang taruna, Jamaah Silahturohim Barokah dan masyarakat menyatakan mohon maaf karena hanya sebatas ini kami bisa membantu merehab rumah bapak Nano. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat bagi bapak Nano. Serta tak lupa Bapak Nano mengucapkan rasa syukur telah dibantu, senyum merekah terlukis diwajahnya hingga tak mampu untuk banyak berkata-kata.

Kediaman Bapak Nano – Dulu
Kediaman Bapak Nano – Sekarang

Lihat lebih banyak Photo Kegiatan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *